Harapan. Iya, harapan. Aku berharap bisa sekali lagi melamarnya.
Kumatikan handphone. Kutengkuk kepalaku, kutopang dengan tangan. Mungkin
pesawat akan delay beberapa saat. Menunggu, diruang tunggu. Disebelahku
ada kumpulan orang, sepertinya mereka atlit atau orang yang hobi arung
jeram. Disudut yang lain ada orang yang duduk jarang-jarang, kurasa
mereka tak mencoba mengakrabkan diri satu sama lain. Lalu ada sejoli yg
asik bergandengan tangan. Mesra. Ditempat lainnya ada juga rombongan
orang-orang paruh baya berpakaian seragam. Setahuku biasanya mereka
adalah rombongan yang baru menyelesaikan ibadah umroh. Lalu ada beberapa
orang lain yg asik menonton televisi bandara.
“para penumpang pesawat XXX diharap segera menaiki pesawat”
Sangat
merdu, pengumuman itu menghentikan lamunanku, seketika itu ramailah
para penumpang berebut masuk kedalam pesawat. Bak anak seragam merah
putih berebut masuk kelas dihari pertama sekolah. Aku memeriksa tempat
duduk. Dapat. Aku duduk dikursi bernomor urut 24c. Aku tak bnanyak
membawa barang. Tak ada yg kubagasikan, aku hanya membawa ransel yg
kutaruh dikabin atas tempat duduk. Aku duduk dengan tenang. Kulihat
para penumpang masih sibuk menyimpan barangnya di kabin. Seorang atlit
arung jeram itu misalnya, tak jauh ia dariku, repot sekali dia melipat
perahu lipatnya dan memasukannya dikabin, atau sejoli yg mengumbar
kemesraan tadi, ternyata barang nya banyak sekali. Kurasa mereka sehabis
berbulan madu dijakarta. Mudah sekali menebaknya, kudengar dia
berbahasa daerah banjar, pastilah mereka ingin pulang ke banjarmasin.
“maaf, pak. Bisa minta kerjasama nya ?” tanya seorang pramugari
“oh iya, ada apa ya ?” aku menurut
“dikursi
penumpang tengah ada ibu dan bayinya, karena peraturan keselamatan
penerbangan tidak mengizinkan kursi penumpang tengah disamping pintu
darurat di isi ibu dan bayi.” Sang pramugari menjelaskan dg ramah.
“jadi
kami mohon bapak untuk bersedia bertukar tempat dengan ibu serta
bayinya. Kami perlu dua orang, bapak dan mbak disebelah bapak.”
Pramugari itu mengisyaratkan seseorang disebelahku.
“oh iya, kalau begitu. Dinomer berapa ya ?”
“30a pak, tepat disamping pintu darurat.”
Aku
pindah. Duduk ditempat yang diarahkan lalu mendengarkan informasi
keselamatan. Melihat pramugari itu memperagakan baju pelampung,
mendengar ia memberi tahu cara memasang sabuk. Walau sangat sudah
kulihat, aku seolah tak bosan memperhatikan peragaan mereka.
Kuperhatikan, Para jamaah umroh terlihat ceria, apalagi kalau bukan
karna kerinduan kepada sanak saudara yang sudah menanti mereka. Kali ini
aku duduk bersebelahan dg seorang tua paruh baya. Dia masih menyalakan
hp nya. Walau setelah itu ditegur seorang petugas. Lalu disebelah yg
lain ada seorang wanita yg td juga bersebelahan denganku dikursi
sebelumnya, berperawakan sedang, dilehernya bergantung sebuah kalung,
tepat disudut kalung itu ada benda bersilang. Dia non muslim. Aku
menarik nafas. Aku ingin cepat sampai kebanjarmasin.
Dan..
Pesawat
menanjak, lalu terbang. Hilang dari pandangan orang-orang yang
memandang. Aku menguyah permen agar tekanan udara saat itu tak
menyakiti telingaku. Lalu bersandar, membaca doa safar. Kepada siapa aku
bertawakkal selain kepada Tuhanku. Tuhan semesta alam. Tuhan wanita
disebelahku, walau pun dia ingkar.
Pesawat mengorbit beberapa
saat. Lalu naik ke lapisan awan yang lebih tinggi, lalu yang lebih
tinggi lagi, lalu mencoba untuk seimbang. Berhasil. Pesawat akhirnya
stabil disebuah tingkatan angin. Lampu tanda sabuk pengaman telah mati,
masing-masing kami melepas sabuk pengaman yg terpasang kuat.
Namun..
Tiba-tiba
pesawat bergoyang. Pesawat menabrak sesuatu. Kumpulan awan, iya,
kumpulan awan. Musim ini memang sudah hak nya awan untuk bermigrasi.
Gumpalan-gumpalan hebat, terus menghambat. Manusia mulai panik. Bapak
disampingku tadi yg menyalakan netbok nya terlihat tegang. Kalut.
Kudengar dibeberapa baris kursi didepan para jamaah pulang umroh
berdzikir, menyebut asma Allah. Hilang ceria barusan. Sebagian dari
mereka menangis. Menjerit. Dan ruangan panjang itu seketika berubah
menjadi mencekam. Menjadi menakutkan. Dan Kulihat wanita disebelahku
menggenggam benda silang dikalungnya. Memejamkan matanya. Malang.
“Bapak
bapak.. ibu ibu.. harap tenang, harap tenang, kita akan baik baik
saja.” Beberapa pramugari mencoba menenangkan keadaan. Namun sayang, dia
kalah. Tak ada yang percaya padanya. Kurasa ia pun tak percaya pada
dirinya sendiri.
Keadaan makin menakutkan, masker oksigen keluar
otomatis menandakan tekanan udara brubah drastis. Aku bingung, apa yang
harus kulakukan. Apa diam saja dan berteriak? Tidak.
Aku langsung
mengambil baju pelampung, kupakai. Entah kenapa aku langsung tahu cara
memakainya. Padahal ini pertama kali aku memakainya, sering
memperlihatkan arahan membuat ku lihai.
Lampu pesawat mati. Semakin histeris. Pesawat telah ditinggal mati mesinnya. Oleng.
“pak. Bagaimana membuka pintu daruratnya.?” Teriak ku
“tarik gagang nya keatas!” kata seorang pramugara. “Tapi itu hanya boleh saat mendarat di atas laut."
Aku tak peduli. Kutarik sekuat tenaga. Kutendang pintunya.
“blaaassss…” pintunya terbuka. Udara masuk tak terkira. Di detik krusial itu, sekuat tenaga kulawan angin. Aku nekat… Loncat……
……
“Aaaaaaaaaa……..”
Aku
meloncat, seperti penerjun payung. Melayang. Membelah aliran angin.
Tanpa parasut. Badanku terjungkil balik diudara. Aku jatuh horiziontal.
Disepintas itu, terlihat pesawat meluncur deras diagonal, menuju laut
lepas. Aku masih melayang. Reflekku menuntun kaki ku untuk menekuk,
sedang kepala kusimpan dibawah dua tangan yg kusambungkan.
“jleeeeeeb byuurr..”
Aku
masuk kelaut. Dorongan nya sangat kuat. Aku masih menerobos aliran
air. Semakin dalam aku, semakin kuat himpitan itu menekan badanku.
Kucoba membuka mata, gelap. Kututup lagi. Hening.
Aku mendengar sesuatu, iya, sayup sayup suara. Sadarkah aku, apa aku berhalusinasi? entahlah. Suara itu, lembut..
Walaqod arsalna nuuhan ila qoumihi falabitsa fiihim alfa miatin illa khamsiina ‘aama…----
Suara itu hilang, aku kehilangan suaranya. Aku tak tahu, yg aku tahu ayat itu belum selesai.
Fa-annjainaahu wa ashaabassafiina waja’alnahaa aayatal lil ‘aalamiin..
Suara
itu datang dan hilang lagi. Disaat itu reflek ku mulai bekerja,
kurentangkan tanganku. Kukayuh kakiku, walau aku tak pandai berenang,
tapi aku tahu caranya. Terus kukayuh kakiku. Sedikit demi sedikit mataku
terbuka, sedikit semi sedikit ada cahaya.
“haaaaaaahhh….” Aku
sampai dipermukaan. Mataku pedih. Ku usap. Kulahap udara yang ada.
Sedari tadi aku tak bisa bernafas. Baju pelampung ini berisi udara.
Ketika terjun tadi aku sempat menarik pengikatnya dan otomatis terisi
udara.itu Turut membantuku naik kepermukaan.
“Allahu akbaar….Allahu akbaaar…..” aku berteriak.
Aku selamat. Aku masih hidup.
Aku
kembali menarik nafas. Mengusap wajah. Malang. sayang. Sejauh
memandang, tak ada apapun selain air laut diseluruh penjuru. Aku menarik
nafas. Aku mulai cemas. Beruntungnya hari masih siang. Matahari masih
menerangiku. Kutiup sekuat tenanga peluit yg terpasang dibaju pelampung.
“priiiit…..priiiiiiit….priiiiiiiittt…priiiit”
Tak ada yg mendengarku.
Aku
menyerah. Aku tak tahu harus apa. Aku tak tahu sampai kapan pelampung
ini mengapungkan ku. Aku tak tahu ini dimana. Laut mana? Banyak hiu kah
disini? Amankah aku ?
Langit lalu gelap. Awan masih jadi
antagonisnya. Hujan datang saat itu. Membasahi wajahku yang sudah basah
sedari tadi. Melumuriku dg pasrah. Gemuruh petir ikut hadir siang itu.
Aku merenung. Pikiranku kosong. Semarak nya gemuruh itu mengingatkan
pada ayat 13 di surah yang ke 13 di juz 13 dari al-qur’an.
Wa yusabbihurra’du bihamdihii wal malaaaikatu min khifatihii…
Dan guruh bertasbih memuji-Nya, (dan demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya
Dingin,
air laut menjadi sangat dingin. Apalagi ditambah hembusan angin.
Harapan, iya, harapan. Masih adakah harapan?? Sejauh memandang hanya
lautan, sejauh memandang hanya kesunyian..
Hujan mulai reda.
Matahari kembali menyala. aku berfikir, berfikir… hmm..aku menatap
matahari, gagah disana. Matahari, itu kuncinya. Perjalanan dari jakarta
ke banjarmasin mengarah ke timur laut, itu artinya pesawat tadi jatuh
mengarah ketimur laut. Kulihat pergerakan matahari, pelan dia menuju
barat. Seketika kutemukan timur laut. Kuambil ancang-ancang. Kutarik
nafas panjang. Berenang. Timurlaut. Entah apa yang kucari. Mungkin masih
ada penumpang yang selamat disana, mungkin aku bisa terlacak tim sar,
mungkin aku bisa dpt bantuan. Harapan. Aku berenang dengan harapan.
Aku
mengayuh kaki dengan cepat, serasa berlari didarat. Aku sudah tak kuat.
Tapi apa yg kudapat ? tak ada. Nihil. Masih laut tak bertepi. Kemana
mereka, kemana benda besar bersayap itu?
“oooooooy…”
“wooooooooy…..”
Aku berteriak.
Hari mulai gelap, kali ini matahari ingin berlelap.
Lalu..
Diambang menyerah itu, kulihat sebuah benda, mengapung. Kuambil.
“ini sarung notebook bapak sebelah tadi” batinku. Aku bicara sendiri.
“oooooyyyy…” aku berteriak lagi. Berharap ada yang mendengar.
Aku berenang berkeliling, mencari apapun. Dan,,..
“subhanallah…. Alhamdulillah”
Aku
menemukan sampan lipat. Pasti ini milik para atlit arung jeram tadi.
Langsung kurentangkan penyangga-penyangga alumunium nya. Kutiup kain
parasutnya hingga terisi angin. Lumayan banyak udara yg harus kupenuhi.
Aku terus meniup, terus meniup. Dadaku ngos-ngosan. Aku terus berusaha.
Aku meniup dengan perasaan takut. Aku ingin cepat naik sampan ini.
“haaaaaah….haaaah…..”
Sekuat
tenaga kunaiki sampan yang sudah jadi itu. Sampan itu cukup luas
untukku seorang diri. Aku berbaring. Aku merasa sangat lega.
Setidaknya tak ada hiu yg bisa memakanku. Tubuhku lemah. Goyangan air
laut kuat. Aku terombangg ambing. Sedang matahari sudah hilang, kulihat
tadi dia berpamitan di ufuk, jingga, cantik. Huuuft. Aku harus shalat
magrib. Aku segera shalat. Lalu kuteruskan dg shalat isya. Dikegelapan.
Tak ada cahaya selain bintang. Sedangkan bulan, sedang sabit ia. Itupun
hilang ditelan awan tenggara. Suara angin menemani. Angin saja, mencoba
mengakrabi. Aku mulai menggigil. Bajuku yg basah membuat suhu tubuhku
mendingin. Aku teringat sesuatu, baju pelampung ini juga dilengkapi
lampu kecil dan batrai. Kunyalakan, itulah cahayaku malam itu. Kuraba
kantong, ada dua bungkus kecil permen. Kulahap satu, itulah makan
malamku. Satunya lagi, biarlah kujadikan sahur untuk esok pagi. Aku
lalu tertimpa kantuk, sebagai rasa aman yg diturunkan Allah.
…..
“nak, keadaan bisa cepat sekali berubah, apapun yg terjadi, kau harus terus optimis…”
“iy..iya bu..” lalu ibuku memeluk. Lalu ia pergi.
“bu,,
ibu mau kemana bu.. buu…” aku mengejar, ibuku pergi berlari, sampai ia
diujung lorong. Kukejar kesana, namun ia sudah tiada.. tak ada apapun.
….
Aku terbangun, hanya bermimpi. Aku bertemu ibuku disana, aku rindu padanya. Tak terasa ada air mata…
Kulihat
arloji, masih ditengah malam. Perutku sangat lapar. aku tak tahu kemana
angin menghanyutkanku. Ketika malam, semua arah terlihat sama. Tak ada
utara. Akupun tak tahu cara membaca bintang. Yang kulakukan hanya
mengayuh sampan lipat ini, tak tahu kemana. Sendiri.
“teek..buuuk” kapal pesiar ku menabrak sesuatu. Kucari-cari, kuraba sekitar kapal, dan….
Jackpot.
“haaaaa…..wooooooyyyyy…..”
aku berteriak sendiri. Aku kehilangan kontrol. Luarbiasa. Aku
mendapatkan tas ku, tas yang kubawa melompat namun jatuh entah kemana.
“alhamdulillah..alhamdulillah…” aku sadar kembali.
Berarti
ini masih tak jauh dari tempat jatuhnya pesawat. Aah.. masa bodoh. Tas
lebih membuatku tertarik, kugeledah isinya, aku mencari…
Yah, ini.
Laptop dengan ribuan file penting. Alhamdulillah. Hanya basah sedikit.
Untung tasku mengapung. Segera kubuka batrai nya. Kutunggu hingga
kering. Senasib dengan hp ku.
Lalu, ada…. Aah… ini dia… sebungkus
roti, Sebiji apel, dan sebotol teh. Kupeluk tiga benda itu. Mendadak aku
jatuh cinta pada mereka. Kupeluk hingga aku tertidur lagi….
4.10am
Aku
terbangun lagi. Memang kalo niat sahur, gimanapun pulasnya tidur bisa
bangun. Insya Allah. Kumakan roti tadi, lalu minum dan apel pun kumakan
sampai tangkainya. Benar-benar lahap. tak tampak bahwa aku mencintai
ketiganya. Begitulah perumpamaan cinta karena hawa nafsu.
Lalu aku shalat tahajud, membaca apapun ayat yg kuingat. Tak banyak yg bisa kukerjakan disini. Sampai matahari datang lagi.
Yah.
Matahari perlahan datang. Keluar diantara riak air timur. Matahari
adalah kompas. Sekarang aku tahu dimana penjuru. Ku kumandangkan adzan.
Shalat sunnah. lalu iqomah. Lalu aku menjadi imam sekaligus, makmum.
Hiburan untuk ku. Pemandangan sun rise dilaut seperti ini tak setiap hari bisa kunikmati.Cantik sekali. Dan….
Woooow…
Kumpulan
lumba-lumba saling meloncati. Seolah ia pun menikmati suasana pagi.
Aku senang sekali. Hewan itu menularkan cerianya kali ini. Walau aku tak
berani mendekati. Merekan berkejaran. Mendekat kehadapanku, mereka
dihadapanku, jelas. Aku bisa lihat hidungnya, aku bisa dengar
lekikannya. Aku bisa dengar deburan air sekelilingnya. Lalu mereka
berlalu. Terus berkejaran. Entah dimana rumah mereka. Sampai mereka
hilang dari pandangan. Aku sangat senang.
8.30am
Matahari
mulai meninggi. Hp beserta laptop sudah kukeringkan. Tak berani
kuhidupkan. Badanku dan bajukupun sudah kering. Aku hangat. Walau hanya
beberapa saat. Kemudian..
“byuur.. “ aku meloncat kelaut. Aku
kepanasan. Berjemur tanpa ada naungan awan. Jika malam tadi aku
kedinginan, maka pagi menjelang siang ini aku kepanasan. Lalu aku naik
lagi ke sampan, tak berani aku berlama-lama dilaut. Aku tak tahu ada apa
didalamnya. Bisa saja banyak karnivora yang mengintaiku disana.
Aku
kembali kepanasan. Aku juga bosan. Entah berapa lama lagi aku disini.
Atau, disinilah aku selamanya. Tidak, na’udzubillah. Aku masih punya
Tuhan untuk berharap. Berdoa. Itulah senjata terakhirku. Aku tengkurap.
Kututup kepalaku dengan jaket. Setidaknya kepalaku tak kepanasan.
Aku
bangkit. Aku kepanasan, matahari sedang marah padaku, sengatannya
membakar. Aku mencari air lagi, kali ini aku hanya berwudhu dan tidak
turun kelaut.Dan Itu….
“wooooooy…….. priiiiiiiiiiiiiittt”
Aku
berteriak, kutiup juga peluit panjang, layaknya wasit mengakhiri
pertandingan sepakbola. Kulihat disalahsatu penjuru ada kapal besar.
Jauuh. Jauh sekali. Mendengarku kah mereka ? atau, atau aku hanya
berhalusinasi?? apapun, mereka tak bisa mendengarku. Tak lama mereka
hilang dengan kecepatan. Ku anggap aku berhalusinasi. Aku layaknya tim
sepak bola yg kalah setelah wasit meniup peluit panjang.
Isi tas
ranselku lengkap, ada mushaf kecil disana.al-qur’an itu duniaku. aku
mengerti kenapa para ulama terdahulu bisa hidup bertahun-tahun dipenjara
karena dizholimi raja bisa bertahan hidup dan menghasilkan karya yg
kuar biasa. Mereka punya al-qur’an dihati mereka. Itu dunia mereka. Itu
harapan mereka. kubaca mushafku. Teringat saat-saat pertama dulu
menghafalnya, aku menangis. Aku terus membaca.
1.09pm
Sudahkah
zhuhur ? kudirikan hp, kulihat bayangan nya, iya, sudah sampai waktu
zhuhur. Aku shalat dan menjama’nya dg ashar. Setelahnya aku
beristirahat, selain mendengar suara angin, aku juga mendengar suara
aduan perutku yang lapar. aku punya uang didompet, namun tak ada ayam
goreng ditengah laut. Aku tak bisa membeli apapun. sabar. Aku menasihati
diri sendiri. Lalu aku tertidur.
........
“byuuuuur….. byuuuurrr…..”
Aku terbangun, aku kaget. Ada orang yg bercebur kelaut.
“anda baik-baik saja?”
Mataku terbelalak. Apakah aku berhalusinasi??
“pak.. anda baik-baik saja ?”
“iya.. iya…ayo naik sini pak.” Tawarku.
Aku girang tak terkira, aku selamat.. alhamdulillahi robbil arsyil adziiim
Dua
orang itu naik ke sampan ku. kutatap langit, ada helikopter disana.
Mereka melambaikan tangan. Aku memeluk dua orang yang naik sampan,
mereka adalah tim sar. Mereka berkata semuanya akan baik baik saja. Tak
berapa lama, dari helikopter itu mengeluarkan tangga.
“pak, saya
bayu, saya akan naik duluan, bapak tolong ikuti dibelakang saya. Lalu
mas agus akan menjaga anda dari belakang.” Mengisyaratkan seorang tim
sar lainnya.
“iya, pak..”
“ayo pak, pelan pelan saja. Bapak pasti bisa.”
“iya, bismillah”
Aku memanjat tangga itu. Mengikuti orang diatasku, suasana nya sulit. Tangga nya bergoyang diserang angin.
“terus pak, terus panjat.” Mas agus menguatkan semangatku, menatapku dari bawah.
Aku
memejamkan mata, kupanjat sekuat tenaga. Dan akhirnya sampai diujung
tangga, seseorang menjulurkan tanggan nya untukku, kutangkap. Lalu
diangkat nya aku naik.
“anda sehat,pak ?” seorang bertanya, lalu menyodorkan air mineral. Kutolak, lalu aku…
.....
Aku membuka mata.
“heeey, sudah bangun,,, sudah bangun..” seseorang berteriak.
Aku berada dalam mobil, kulihat diluar ada jalan dg banyak mobil. Aku sudah tak dilaut.
“pak, minum pak..”
“sudah magrib.?”
“iya sepertinya….”
Allahu akbar Allahu akbar….
Suara adzan magrib berkumandang. Pas sekali. Kuminum air yg diberikan. Mobil terus berjalan, mobil ambulan.
“kami ingin memeriksakan kondisi anda pak, kita kerumah sakit sekarang”
“iyaa.. eh, ransel saya mana ya?”
“oh ada pak saya taruh dibelakang”
Aku
lalu sampai dirumah sakit bhayangkara, jakarta. Tak terlalu jauh dari
soekarno hatta. Aku langsung melakukan medical check up. Lalu aku
diopname. Dokter menyuruhku beristirahat dulu. Karena katanya tubuhku
lemah. Diruangan itu hanya aku sendiri. Bermalam, dijaga oleh beberapa
petugas. Paginya sudah ada beberapa wartawan yang menunggu. Namun aku
masih tidak diperbolehkan bertemu wartawan. Aku masih lemah. Wajar
sebenarnya jika banyak wartawan yang menungguku, aku adalah satu-satunya
korban selamat pesawat XXX yang sampai hari ini belum ditemukan
bangkainya. Aku juga tak ingin bertemu siapapun. Seharian.
“pak.. tolong pak biarkan kami masuk. Tolong ”
Aku heran, ada beberapa orang yg mencoba masuk ruanganku. Aku penasaran. Kupanggil petugas yang menjagaku.
“pak, siapa diluar..” aku terbata
“seorang wanita muda dan kedua orang tuanya. Katanya mereka keluarga bapak” jawab petugas itu.
“biarkan mereka masuk,pak”
…….
Wanita muda itu… menangis.. menutup hidung dan mulutnya dengan tangan. Dibalik itu dia memanggilku terisak…
“rian…”
Jo_
Harapan, kawan..
jangan soalkan betapa ngawurnya aku menulis, rasakan saja asik nya berimajinasi bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar