Minggu, 08 Juli 2012

Buku berjudul namanya (16)

Sarah tertunduk. Ingin kakinya berlari. Namun terhalang situasi.
'jadi bagaimana mbak sarah?' seorang berkopiah paruh baya meminta keputusan.
seorang lelaki lainnya menatap sarah penuh harap.
Hening.
'saya....msaya meminta maaf kanjeng kyai...' ujar sarah
malam itu, acara lamaran ust.Amron tidak diterima. Sarah berlari kekamarnya setelah kyai Ahmadi dan ust.Amron pulang. Kyai Ahmad melamarkan muridnya, Sarah tak mengiya.
Tak tahu kenapa, ada perasaan trauma dihatinya setelah gagal berumah tangga. Lagipula, sarah ingin meninggalkan jogja secepatnya. Hatinya sudah terlalu rindu umi, abah, dan rumah. tak ada rencana apapun dikepalanya, kosong. Sarah merasa hampanya sempurna.
Merayunya segera pulang, membujuknya mencari penawar sepi dikampung halaman. setidaknya, sampai dia benar-benar siap berumah tangga lagi.

....

Sarah menangis, dipeluknya umi yg menjemput nya dibandara. Mungkin begitulah seorang wanita mengungkapkan perasaan nya. Menangis itu laksana obat bagi rasa sakit, haru, dan sedih... Obat yang tak diracik diapotek manapun.

Kalender terus dirobek.
Sarah menemukan lagi semangat nya, menemukan gairah baru. dan itu adalah senyuman, senyuman untuk anak-anak yatim sebuah panti asuhan dipusat kota. Sarah menjadi pengajar bahasa arab diasrama putri.  Baginya, senyum anak yatim adalah bayaran dg mata uang kurs tertinggi didunia. Ya, sarah menjadi pengajar tanpa bayaran.

"kau tak ingin berumah tangga lagi, nak?" tanya sang ibu suatu sore.
"umii.. ada apa umi bertanya seperti itu?" sarah balik bertanya ramah.
"Umur mu semakin tua nak, kau tak bisa seperti ini terus. walau umi tak berhak memaksamu lagi, umi harap kau bisa seperti yg lain "
"umi... sarah tu sayaaang bgt ama umi.. sarah ngerti, umi ingin sarah bahagia.. tapi mi, sarah baru menemukan arti hidup sarah sendiri, sarah mengerti artinya berbagi kasih sayang kpd org yg tdk pernah merasakannya. sarah bahagia, mi.. sangat bahagia."
"tapi nak, bagaimana jika ada seorang yg ingin menikahimu?"
"menikah...?" sang anak kaget, bimbang dan ragu. sulit untuk nya memulai hidup baru.

Seminggu, umi menanyakan lagi kepada sarah tentang pernikahan.
"memang benar ada yg mau menikah dg sarah bu ?"
"iya, nak.."
"dia sudah tau kondisi sarah?"
"dia sangat mengenalmu nak" umi meyakinkan.
Merenung, sarah mencoba meyakinkan hatinya juga. dia rasa umi nya benar. Dia harus mencoba hidup baru. Seperti buku baru, dan menutup buku yg sudah pernah dibaca.

Rencanapun dibuat. Seseoramg akan datang melamar nya esok pagi. Sarah Terjaga ditengah malam, diambil nya air wudhu, lalu ruku dan sujud untuk Tuhan nya, Tuhan semesta alam. Lalu dibacanya mushaf kecil kesayangan nya. Hingga waktu terbenam nya bintang-bintang.

Abah duduk diruang tamu, bersama umi. Sudah siap mereka menyambut seseorang yg akan melamar sarah. Dan sarah, ikut berada disitu, wajahnya menunduk. bibirnya melafadzkan sesuatu. walau ini bukan lamaran pertama yg datang kepadanya, tetap saja dia merasa ada yg mengganjal dihatinya, mengalir memenuhi pikiran nya.

telepon genggam umi berdering, umi terlihat serius menjawab, umi mengiya beberapa kali.
"dia sebentar lagi datang, nak" ujar umi sumringah.
"hhmm... oh" jawab sarah sekenanya. Lalu melanjutkan aktifitasnya menunduk cemas, tp khusyu dg dzikir.

"assalamu'alaikum" sebuah salam datang
"alaikumussalam" jawab umi dan abah, serempak. sarah hanya menjawab lirih. Sambil terus tertunduk.
"ayo masuk, nak.. sudah ditunggu dari tadi" sapa umi

sarah mencoba mengangkat wajahnya, pelan..
Matanya membulat, nafasnya tertahan, bibirnya tak lg bergetar karena dzikir, teringat kisah masa lalu, lalu setelah beberapa detik itu mengalir beningan air disudut matanya, tumpah...
sosok itu berdiri didepan pintu... senyum itu hadir lagi...
Lelaki itu...

Rian..


*sebenarnya ingin kutuntaskan sekarang kisahnya, tapi...bersambung lagi aja deh



JO_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar