Minggu, 08 Juli 2012

The end begin (17)

Aku menatap sarah, sekejap. Wajahnya sayu. Aku tak bisa lagi menebak pikirannya. Oh, bahkan aku pun tak bisa menebak pikiranku sendiri, apa sebenarnya yang kulakukan. Ini terasa konyol. Aku melamar sarah disaat humaira terbaring koma. Jantung nya diserang, syaraf ensemiknya tak berfungsi. Aku melamar sarah, sesaat sebelum humaira tak bisa berkata. Hatiku harap. Apa ini semua. Bahkan wajah sarah pun terlihat humaira dimataku.
“abah sudah mengerti keadaannya, saya ingin meminang sarah. Mohon dipertimbangkan nya” aku sudah tak bisa berbasa-basi. Pikiranku kacau. Aku berada dirumah sarah di banjarmasin., sedang hatiku ada di sebuah billik rumah sakit, jakarta.
“nak, kau itu abah anggap anak abah sendiri, abah sangat senang sekali, namun nak, sarah sekarang berhak memutuskan pilihannya sendiri. Hak ada padanya. Kau sudah mengerti statusnya sarah.” Abah mencoba bijak.
“jadi, kau melamar ku karena permintaan istrimu??” tanya sarah, sepertinya ada wajah keberatan dari sikapnya
“aahm,, sarah.. begini.. aku…” kucoba menjelaskan, namun..
Kriiing..kriiing…kriiing….
Ponselku berbunyi.
“assalamu’alaikum” sapaku
“wa’alaikumussalam, rian… istrimu… ”
-----
Bebanku semakin berat. Pikiranku semakin kacau. Kepalaku pusing, aku belum makan apapun dari pagi. Pagi tadi aku sampai banjarmasin, siang ini juga aku harus kembali ke jakarta. Humaira…
“innalillahi..maaf, bah, umi.. sarah.. sepertinya kondisi humaira memburuk. Tadi keluarga disana mengabari kalau jantungnya harus dioprasi. Saya harus kesana, bah.. saya… saya minta maaf”
“innalillah, iya, ya sudah, kami akan ikut pergi bersamamu nak,..”
----------------
Kami diruang tunggu keberangkatan.Pesawat delay setengah jam. Aku ingin murka, namun tak bisa. Sarah duduk dihadapanku, kucuri pandang kearahnya. Aku tak tau kenapa, namun hatiku sedikit tenang.  Aku teringat, tak membaca al-qur’an satu surah pun hari ini. Kuraba saku,.. oh tidak.. mushafku tertinggal. Aku melihat ponsel, batrai nya tersisa setengah. Aku harus hemat batrai ini, menunggu kabar dari humaira. Aku juga tak bisa mendengarkan al-qur’an di mp3 seperti biasanya. Menunggu, tiap detiknya sangat mengganggu. Sedetik menunggu, sewindu rasanya bagiku.
Akhirnya, benda besar bersayap itu terbang juga. Mengantarkan tubuhku untuk kembali ke hatiku. Abah,umi dan sarah duduk sejajar bertiga. Sementara aku, dibarisan yang lain, bersama seorang gadis cantik berkerudung merah muda, disebelahnya, atau disamping jendela ada pemuda berjenggot tipis, bercelana cingkrang. Kulihat mereka berdua akrab, karena barusaja si wanita menginjak kaki si pemuda yg sedang luka. Lalu terjadi obrolan antara mereka tentang beberapa hal dari al-qur’an, tentang pernikahan dan yg lain. Dalam diam, aku menikmati  obrolan mereka, kiranya si pemuda itu berumur beberapa tahun dibawahku, pemuda yg memiliki wawasan islam yg baik. Aku jd tersadar, akhir-akhir ini aku dihadapkan dg urusan perniagaan dan dunia yg sangat menyibukan. Aku sedikit melupakan belajar, aku merasa sombong, merasa sudah hebat dg hafal banyak hadits di shahihain. Padahal, aku masih bodoh, masih harus belajar banyak, dan harus mengamalkan hadits yg kuhafal, karna dg begitulah hafalan hadits itu akan kuat, sebagaimana ulama terdahulu mengajarkan. Aku berjanji, aku berikrar sendiri, pada diriku, akan membuka lagi kitab-kitab hadits yg kurasa sudah berdebu diperpustakaan rumahku ditasik. Pemuda itu mengingatkanku pada diriku beberapa tahun lalu. Disaat jiwa masih sangat bersemangat. Aah.. ingin sekali aku mengajak si pemuda itu bicara, kudengar tadi namanya abu naafi’, kurasa itu cuma kun-yah nya saja. Namun, situasi nya sedang tak memungkinkan..
Take off. Kami bergegas keluar dari pesawaat. Sambil mengurus bagasi, Kucoba nyalakan ponsel.
Low battery
Kucoba menelpon ayah mertua ku yang menunggui di RSCM.Sebuah Rumah sakit elit di jakarta. Aku tak lagi peduli mahalnya biaya, humaira adalah hartaku yang paling berharga.
“assalamu’alaikum, abi.. humaira bi,.. bagaimana humaira..”
“wa’alaikumussalam, iya nak.. kami juga masih menunggu. Sekarang oprasinya masih berjalan. kamu dimana nak.. cepat kesini..” ayah mertuaku mulai panik
“iya bi, ana sudah sampai jakarta, sebentar lagi menuju kesna.”  Klik.
Low baterry
Aku terduduk di troli. Menunggu barang keluar pada meja berjalan. satu-persatu tas dan koper keluar, berjalan teratur. Ingat kembali yg terjadi. Pikiranku terbang, menuju kenangan 6 bulan yang lalu. Saat pertama menikahi humaira. Aku benar-benar mencintainya. Untaian rasa yg diselipkannya, meluluhkan hati terdalam. Aku rindu matanya, tatapannya. Aku rindu parasnya, senyumnya. Aku rindu secangkir teh rosela dipagi hari buatannya. Aku rindu nasi goreng gosong racikannya, aku rindu belaiannya, tanganku rindu diciumnya. Aku rindu pukulan manjanya ketika aku salah membaca al-qur’an dihadapannya. Aku rindu.. seperti tandus merindu hujan. Seperti nelayan merindu bintang…
Aku tersenyum sendiri. Dengan membayangkannya, humaira terasa disini. Sangat dekat. Kurasa dia disini, bersandar dibahuku. Merengek seperti biasanya agar aku membaca surah ar-rahman, surah kesukaan nya. Tak terasa, aku pun melantunkan surah yang begitu indah itu..
------
Kriiing..kriiing…kriiing….
Ponselku kembali berbunyi. Membuyarkan konsentrasiku membaca ayat-demi ayat. Aku lalu melangkah beberapa jauh. Kutinggalkan abah,umi, dan sarah menunggui barang.
“naak.. istrimu..”
“kenapa  bi, kenapa humaira ??” aku kaget
“Allah menginginkan dia mendahului kita, nak”
“astaghfirullah, humaira..humaira….”
Tiit..low battery…biiiieep… handphoneku mati.
Aku terduduk ditroli. Kurasa dunia sangat sempit.Dadaku sesak. Seperti petir disiang hari. Aku menangis. Tak tahu dg cara apa lagi kutumpahkan semua ini. Aku kemarau, tandus.. kehilangan hujan.
 “kenapa, nak rian ?” tanya umi
“humaira mi..” aku masih tak bisa menahan tangis

Ayah dan ibunya sarah bertatapan, mereka sepertinya mengerti.
“kenapa istrimu, yan ?”
-------
Kami bergegas memanggil taxi, kulihat bandara soetta, disini kudapat dua kabar buruk. Pertama ketika ayahku dibunuh, lalu sekarang, ketika istriku gagal oprasi. Dan kehilangan nyawanya. Keduanya, adalah orang yg sangat aku cintai. Aku tersandar di sofa taxi. Tak sebiji nasipun masuk keperutku sedari pagi. Aku tak peduli, aku ingin melihat humaira. Aku melihat wajahnya. Aku…
-------
“yaaan….yaan…”

Sayup-sayup kudengar suara. Aku mengenal suara ini..
“yan.. yan…”
“alhamdulillah.. yan antum udah sadar kan..”
“haah.. u…umar.. mar.. dimana kita..” aku tak sadarkan diri
“kita dirumah sakit, akhi… antum tadi sempat pingsan.”
“mar.. antum ko bisa ada disini??”
“wah panjang ceritanya, ana udah liburan musim panas. Pas nyampe jakarta, ada beberapa ikhwan yg ngabarin kalo istri antum lg opname, ana langsung aja kesini. Eh malah ktemu antum yg pingsan kluar dari taxi.”
“humaira..” aku teringat istriku.
Aku berlari, berlari dari ruang IGD RSCM menuju kamar oprasi humaira. Tiap jengkal langkahku adalah sisa-sisa tenaga yang kupunya. Tiap pijakan tangga kunaiki dg susah payah. Hatiku masih tertinggal dikamar oprasi humaira, sekuat kaki ini berlari menujunya.
------
Humaira..
Kulihat wajahnya, tenang. Seperti saat pertama dia membuka cadarnya. Kupegang tangannya.dingin.. Mata indahnya tertutup, seolah bosan menatap gemuruhnya dunia. Kuusap pipinya, humaira.. merah muda..
Siang itu ada beberapa orang berserangam putih, mengelilingiku yg sedang menciumi tangan istriku. Lalu ada keluarga dan kerabat yang hadir disana. Mereka berduka bersamaku. Namun aku merasa sepi. Aku nelayan yang tersesat samudra malam, sendiri..
Kehilangan bintang merah mudaku. Humaira…






jo_
sudah kubilang, ini hanya cerbung mendadak. bukan novel.
terimakasih telah bersamaku di hampir satu tahun ini.

1 komentar: