Minggu, 08 Juli 2012

Kejutan (19)

Mataku terbuka. Tanganku reflek menggagah kacamata,.. dapat. Langit-langit kamar dengan cat dan dekorasi baru. Ini kamar pengantinku.

Sebenarnnya ini kamar sarah, iya, dia disebelahku. Tertidur tenang. Dia... Pengantinku. Kutatap ia, kunikmati cantiknya. Kubelai rambutnya, ia diam, ia pulas. Kukecup bibirnya, layaknya seorang pangeran membangunkan sang puti tidur. Namun ia tak bangun, ia masih dipinjam mimpi-mimpinya. Aku senang melakukannya, setiap hari seperti itu. Seminggu pernikahan kami.

Ini malam pertama aku tidur seranjang dengan sarah. Aku tertidur duluan sehabis isya. Biasanya aku tidur di sofa. Seminggu ini aku belum ‘menyentuh’ nya. Aku selalu tidur diawal malam, dan bangun diakhirnya. Aku berdiri lama dalam shalatku, aku membaca surah-surah panjang yang masih kuhafal. Aku terlalu banyak kehilangan ayat-ayat. Aku malu. mencari dunia membuat banyak ayat yg hilang dari kepalaku. Namun al-qur’an masih ada dihatiku.

Bulan depan kuputuskan membawa sarah ke Tasik. Aku akan menjadi pengajar disana. Sarah juga akan mengajar di pondok putrinya. Mungkin dengan mengajar dipondok pesantren aku bisa menjaga hafalanku. Lingkungan disana juga baik untukku dan keluarga kecilku. Beberapa usaha disini biarlah kuamanahkan pada orang-orang yg kukenal. Aku juga punya pabrik kain sasirangan paling besaar dikota ini. Biarlah abah yg mengurusnya. Beliau jd ayahku,  Aku punya ayah lagi sekarang.

Sebelum kami pindah ke tasik, rencananya aku akan berbulan madu dulu ke bandung. Ada beberapa tempat bagus
disana. Aku merancang banyak kejutan untuknya. Musim sedang semi, kuharap bunga-bunga cinta akan tumbuh.
“batiy, bangun sayang.. sebentar lagi shubuh datang” aku membangunkan sarah. Kupanggil dia bati, habibatiy, kekasihku.

Matanya terbuka manja. Lalu bangun seketika.
“masih sempatkah untuk tahajud?” tanya nya.

“sepertinya mepet, sayang. Aku pergi kemasjid dulu ya..” aku tersenyum. Lalu kukecup keningnya.  Sebagaimana rasulullah pernah mencontohkan mencium kening ‘aisyah ketika hendak pergi kemasjid.

Sarah dingin, wajahnya tak bermimik. Hanya salam ku yg dijawabnya pelan. Lalu aku berlalu. Shalat dimasjid adalah kewajiban semua lelaki. Ini wajib. Banyak dalil yg menguatkan kewajibannya, tidak seperti yg dipahami banyak orang yg mengira itu hanya muaqqadah.
...

Aku kembali dari masjid bersama abah yg juga shalat berjamaah dimasjid. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar menemui sarah, kusapa ia dg salam, kutatap wajahnya dengan senyuman, segera kucium lagi keningnya.

Namun ia berpaling. Wajahnya muram.
“apa yang kamu sembunyikan dari aku?”

“sembunyikan..? apa...? sayang ada apa “

“kita sudah menikah seminggu..” serunya

“ya.. aku mengerti..”

“bukankah Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan berkasih sayang suami istri? Lalu kenapa kau belum menyentuhku ?”

“aku mencium keningmu setiap hari, sayang. Kamu mencium tanganku, kan?”

Sarah terdiam, kurasa ia tahu kalau aku mempermainkan kemarahannya. Sarah itu sangat peka, sensitif. Hal yang kusuka darinya.

“kamu menyembunyikan sesuatu...” lirihnya

“haammm..”

“foto itu”

“foto apa ?” tanyaku

Sarah menolehku, matanya bercucuran air.

“foto di hidden folder laptop mu”

Aku terperanjat, aku ketahuan..

“sar, maafkan aku..”

“kamu masih mencintainya? Yan.. jawab..!”

Aku kebingungan. Harus kujawab apa.

“baiklah sar, baik.. aku masih menyimpannya. Karna Cuma itu yang tersisa darinya. Humaira sudah pergi sar, dia sudah...”

Aku menghentikan ucapanku. Keadaan hening.

“kenapa yan,kenapa kamu menikahiku ? sakit rasanya...”

“bukan foto itu alasannya, sar. Percayalah. Bisa kamu hapus jika kamu mau. Sekarang kita persiapkan bulan madu kita, lusa kan kita ke bandung.”

Sarah diam. Air dimatanya tak juga reda. Kuhapus perlahan. Kuhapus juga foto humaira yg sarah permasalahkan.
Apa aku memang masih mencintai humaira.. entahlah. Aku sekarang memiliki sarah sebagai amanah. Aku memilikinya sebagai bingkisan Tuhan untukku. Ada sesuatu yang harus tumbuh dan berbuah dihati kami.
Aku tahu sarah marah.  Tapi tak berarti aku tak bisa membuatnya benar-benar mencintaiku.


  ....
“Kok senyum nya gitu banget, sar?” candaku

Matanya membesar, ronanya tak samar, senyumnya lingkar, dia memegang tanganku lalu  seolah memintaku serius untuk mendengar.

“Seumur hidup baru hari ini aku ke Pasar terapung, Yan. Aku suka suasananya. Tradisional, natural, kultur ini masih lestari sampai sekarang.” Sarah berdecak

“ko kamu tau aku suka budaya, yan?”

Sarah menikmati kejutan pertamaku. Kuajak ia menuju pasar terapung, sebuah tempat paling tradisional dikota ini, hanya ada ba’da shubuh sampai waktu syuruq. Dengan sebuah perahu motor kecil beratap sewaan yg biasa disebut kelotok, aku mengajaknya menikmati suasana itu bersama mentari yang mulai tampak. Indah. Seindah sarah. Yang sedikit kucoba hapus gundah.

“ya, aku tahu lah. Anak seorang pengusaha kain sasirangan yang tidak suka budaya banjar itu konyol” aku megumbar senyum.

Sarah tersenyum, menatapku ringan, lalu lidahnya sedikit diselipkan diantara dua bibir merahnya, seolah berkata “gombalmu cetek” . Sangat menggemaskan melihat wajahnya.

Aku menatap wajah sarah, lalu pandanganku turun pada tangan kami yang saling berpegangan, angin pagi menyapa kami yang duduk bersanding dibahtera klasik itu, mentari muncul di ufuk, seolah lahir dari perut sungai martapura yg begitu luas.

“eeh, “ sarah menarik tangannya.

Aku tersenyum menang. Sarah terbawa suasana. Aku tahu sebenarnya dia suka. Masih ada gengsi dihatinya. Sarah lalu cemberut. Titanic kecil kami masuk membaur ke kumpulan perahu-perahu lain di pasar mengapung itu.

“oh iya sayang, kamu tunggu sebentar disini ya..”

“mau kemana, yan?” cemasnya

“nyari kesukaanmu”

Aku naik keatas atap perahu, aku meloncat lincah keatap perahu lain. Lalu mencari perahu penjual kue, sarah sangat suka kue bingka, khas kota ini. Aku juga suka kue itu, aku suka kota ini. sedikit demi sedikit aku melupakan darah  bangsawan acehku.

“berapa cil harga nya seberataan? Bungkus dikantong plastik cil lah” akupun fasih berbicara bahasa daerah sini.

“lima ribu haja, ni nah. Hati-hati beluncat-luncat nak lah” nasihat ibu2 penjual kue itu, agar aku hati-hati dalam meloncati tiap atap perahu. Disini meloncati tiap atap perahu adalah hal lumrah. Karena tak ada daratan, hanya ada sungai luas yang jadi hamparan.

Aku meloncati atap perahu yg berdekatan mengapung diair. Tinggal sekali loncat lagi untuk sampai keperahu motor yang kusewa. Namun gelombang begitu kuat. Dan jarak antara perahu jadi menjauh. Aku meloncat. Dan..

“byuuur”

Aku terpeleset, embun pagi diatas perahu membuat nya menjadi licin dan aku meluncur masuk sungai yg entah berapa puluh meter dalamnya. Sepersekian detik aku jatuh tadi, kudengar teriakan sarah histeris.
Aku menyelam beberapa detik, kutahan paru-paruku yg haus oksigen. Saat pagi seperti ini sungai masih jernih, dan sinar matahari menerangi pandangan ku dari dalam air. Sarah panik mencariku. Aku menghampirinya, kukeluarkan tanganku dari dalam air, hanya tanganku, beserta kantong plastik kue yg kupegang sedari tadi.

Sarah merampas tanganku. Aku keluar dari dalam air. Kurampas oksigen semauku. Aku naik keperahu motor itu. Bajuku terlalu basah dan aku tertarik mengeringkan badan berjemur sinar matahari. Aku duduk di ujung  diatap perahu, sarah menghampiriku. Sisa pucat masih ada diwajahnya, mungkinkah ia takut kehilanganku? Entahlah, tak bisa ia berkata. Kubantu ia duduk besamaku diatap kapal sederhana itu. Kupercikan air dari tanganku yg basah kewajahnya. Sarah tersenyum, manis sekali. Kepalanya bersandar dibahuku yg basah. Angin lagi-lagi bertiup menambah romantis pagi itu. Sesekali kusuapi sarah dg kue kesukaannya. Banjarmasin adalah kota seribu sungai. Itu menggambarkan banyaknya sungai dikota ini, pagi ini kami menikmati wisata menyusuri sungai-sungai pinggiran kota. Melihat pemandangan kota dari tempat yang berbeda. Dengan kapal motor sederhana.

Tiap kapal motor dikota ini memiliki bentuk yang sama namun berbeda warna dan tulisannya, Sebagai ajang kreatifitas dan sesuai selera pemiliknya. Pak Dayat, pemilik kapal motor yg kusewa tersenyum melihatku dan sarah.

“haha pengantin baru, ya nak ?” tanya beliau

“dia pacar saya, pak” aku tertawa renyah.

Sarah pun tersenyum, tak malu lagi ia memegang tanganku. Kapal motor itu terus melaju melewati anak-anak sungai kota ini. Kapal motor bercat warna hijau cerah, yg baru kusadari bertuliskan sebuah kata sederhana dibadan kapalnya, kata yang mulai ada dihatiku dan dihati seorang wanita..

‘CINTA’




Bersambung Lagi..(maaf)

4 komentar:

  1. aku mesti pastikan d internet apa banjarmasin semenarik itu? lebih menarik dari kota2 yg pernah aku kunjungi. aku selalu berharap kalau citarum jadi pusat kota. ahahaha. hanya mimpi. nice thor, , aku tunggu bgt kisah lanjutannya, , semangat thor!

    BalasHapus
  2. lanjutannya kelamaan... pembaca menunggu :D

    BalasHapus