Mataku terbuka. Tanganku reflek menggagah kacamata,.. dapat.
Langit-langit kamar dengan cat dan dekorasi baru. Ini kamar pengantinku.
Sebenarnnya
ini kamar sarah, iya, dia disebelahku. Tertidur tenang. Dia...
Pengantinku. Kutatap ia, kunikmati cantiknya. Kubelai rambutnya, ia
diam, ia pulas. Kukecup bibirnya, layaknya seorang pangeran membangunkan
sang puti tidur. Namun ia tak bangun, ia masih dipinjam mimpi-mimpinya.
Aku senang melakukannya, setiap hari seperti itu. Seminggu pernikahan
kami.
Ini malam pertama aku tidur seranjang dengan sarah.
Aku tertidur duluan sehabis isya. Biasanya aku tidur di sofa. Seminggu
ini aku belum ‘menyentuh’ nya. Aku selalu tidur diawal malam, dan bangun
diakhirnya. Aku berdiri lama dalam shalatku, aku membaca surah-surah
panjang yang masih kuhafal. Aku terlalu banyak kehilangan ayat-ayat. Aku
malu. mencari dunia membuat banyak ayat yg hilang dari kepalaku. Namun
al-qur’an masih ada dihatiku.
Bulan depan kuputuskan
membawa sarah ke Tasik. Aku akan menjadi pengajar disana. Sarah juga
akan mengajar di pondok putrinya. Mungkin dengan mengajar dipondok
pesantren aku bisa menjaga hafalanku. Lingkungan disana juga baik
untukku dan keluarga kecilku. Beberapa usaha disini biarlah kuamanahkan
pada orang-orang yg kukenal. Aku juga punya pabrik kain sasirangan
paling besaar dikota ini. Biarlah abah yg mengurusnya. Beliau jd
ayahku, Aku punya ayah lagi sekarang.
Sebelum kami pindah ke tasik, rencananya aku akan berbulan madu dulu ke bandung. Ada beberapa tempat bagus
disana. Aku merancang banyak kejutan untuknya. Musim sedang semi, kuharap bunga-bunga cinta akan tumbuh.
“batiy, bangun sayang.. sebentar lagi shubuh datang” aku membangunkan sarah. Kupanggil dia bati, habibatiy, kekasihku.
Matanya terbuka manja. Lalu bangun seketika.
“masih sempatkah untuk tahajud?” tanya nya.
“sepertinya
mepet, sayang. Aku pergi kemasjid dulu ya..” aku tersenyum. Lalu
kukecup keningnya. Sebagaimana rasulullah pernah mencontohkan mencium
kening ‘aisyah ketika hendak pergi kemasjid.
Sarah dingin,
wajahnya tak bermimik. Hanya salam ku yg dijawabnya pelan. Lalu aku
berlalu. Shalat dimasjid adalah kewajiban semua lelaki. Ini wajib.
Banyak dalil yg menguatkan kewajibannya, tidak seperti yg dipahami
banyak orang yg mengira itu hanya muaqqadah.
...
Aku
kembali dari masjid bersama abah yg juga shalat berjamaah dimasjid.
Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar menemui sarah, kusapa ia dg
salam, kutatap wajahnya dengan senyuman, segera kucium lagi keningnya.
Namun ia berpaling. Wajahnya muram.
“apa yang kamu sembunyikan dari aku?”
“sembunyikan..? apa...? sayang ada apa “
“kita sudah menikah seminggu..” serunya
“ya.. aku mengerti..”
“bukankah Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan berkasih sayang suami istri? Lalu kenapa kau belum menyentuhku ?”
“aku mencium keningmu setiap hari, sayang. Kamu mencium tanganku, kan?”
Sarah terdiam, kurasa ia tahu kalau aku mempermainkan kemarahannya. Sarah itu sangat peka, sensitif. Hal yang kusuka darinya.
“kamu menyembunyikan sesuatu...” lirihnya
“haammm..”
“foto itu”
“foto apa ?” tanyaku
Sarah menolehku, matanya bercucuran air.
“foto di hidden folder laptop mu”
Aku terperanjat, aku ketahuan..
“sar, maafkan aku..”
“kamu masih mencintainya? Yan.. jawab..!”
Aku kebingungan. Harus kujawab apa.
“baiklah sar, baik.. aku masih menyimpannya. Karna Cuma itu yang tersisa darinya. Humaira sudah pergi sar, dia sudah...”
Aku menghentikan ucapanku. Keadaan hening.
“kenapa yan,kenapa kamu menikahiku ? sakit rasanya...”
“bukan
foto itu alasannya, sar. Percayalah. Bisa kamu hapus jika kamu mau.
Sekarang kita persiapkan bulan madu kita, lusa kan kita ke bandung.”
Sarah diam. Air dimatanya tak juga reda. Kuhapus perlahan. Kuhapus juga foto humaira yg sarah permasalahkan.
Apa
aku memang masih mencintai humaira.. entahlah. Aku sekarang memiliki
sarah sebagai amanah. Aku memilikinya sebagai bingkisan Tuhan untukku.
Ada sesuatu yang harus tumbuh dan berbuah dihati kami.
Aku tahu sarah marah. Tapi tak berarti aku tak bisa membuatnya benar-benar mencintaiku.
....
“Kok senyum nya gitu banget, sar?” candaku
Matanya membesar, ronanya tak samar, senyumnya lingkar, dia memegang tanganku lalu seolah memintaku serius untuk mendengar.
“Seumur
hidup baru hari ini aku ke Pasar terapung, Yan. Aku suka suasananya.
Tradisional, natural, kultur ini masih lestari sampai sekarang.” Sarah
berdecak
“ko kamu tau aku suka budaya, yan?”
Sarah
menikmati kejutan pertamaku. Kuajak ia menuju pasar terapung, sebuah
tempat paling tradisional dikota ini, hanya ada ba’da shubuh sampai
waktu syuruq. Dengan sebuah perahu motor kecil beratap sewaan yg biasa
disebut kelotok, aku mengajaknya menikmati suasana itu bersama
mentari yang mulai tampak. Indah. Seindah sarah. Yang sedikit kucoba
hapus gundah.
“ya, aku tahu lah. Anak seorang pengusaha kain sasirangan yang tidak suka budaya banjar itu konyol” aku megumbar senyum.
Sarah
tersenyum, menatapku ringan, lalu lidahnya sedikit diselipkan diantara
dua bibir merahnya, seolah berkata “gombalmu cetek” . Sangat
menggemaskan melihat wajahnya.
Aku menatap wajah sarah,
lalu pandanganku turun pada tangan kami yang saling berpegangan, angin
pagi menyapa kami yang duduk bersanding dibahtera klasik itu, mentari
muncul di ufuk, seolah lahir dari perut sungai martapura yg begitu luas.
“eeh, “ sarah menarik tangannya.
Aku tersenyum menang. Sarah terbawa suasana. Aku tahu sebenarnya dia suka. Masih ada gengsi dihatinya. Sarah lalu cemberut. Titanic kecil kami masuk membaur ke kumpulan perahu-perahu lain di pasar mengapung itu.
“oh iya sayang, kamu tunggu sebentar disini ya..”
“mau kemana, yan?” cemasnya
“nyari kesukaanmu”
Aku naik keatas atap perahu, aku meloncat lincah keatap perahu lain. Lalu mencari perahu penjual kue, sarah sangat suka kue bingka, khas kota ini. Aku juga suka kue itu, aku suka kota ini. sedikit demi sedikit aku melupakan darah bangsawan acehku.
“berapa cil harga nya seberataan? Bungkus dikantong plastik cil lah” akupun fasih berbicara bahasa daerah sini.
“lima
ribu haja, ni nah. Hati-hati beluncat-luncat nak lah” nasihat ibu2
penjual kue itu, agar aku hati-hati dalam meloncati tiap atap perahu.
Disini meloncati tiap atap perahu adalah hal lumrah. Karena tak ada
daratan, hanya ada sungai luas yang jadi hamparan.
Aku
meloncati atap perahu yg berdekatan mengapung diair. Tinggal sekali
loncat lagi untuk sampai keperahu motor yang kusewa. Namun gelombang
begitu kuat. Dan jarak antara perahu jadi menjauh. Aku meloncat. Dan..
“byuuur”
Aku
terpeleset, embun pagi diatas perahu membuat nya menjadi licin dan aku
meluncur masuk sungai yg entah berapa puluh meter dalamnya. Sepersekian
detik aku jatuh tadi, kudengar teriakan sarah histeris.
Aku
menyelam beberapa detik, kutahan paru-paruku yg haus oksigen. Saat pagi
seperti ini sungai masih jernih, dan sinar matahari menerangi pandangan
ku dari dalam air. Sarah panik mencariku. Aku menghampirinya,
kukeluarkan tanganku dari dalam air, hanya tanganku, beserta kantong
plastik kue yg kupegang sedari tadi.
Sarah merampas
tanganku. Aku keluar dari dalam air. Kurampas oksigen semauku. Aku naik
keperahu motor itu. Bajuku terlalu basah dan aku tertarik mengeringkan
badan berjemur sinar matahari. Aku duduk di ujung diatap perahu, sarah
menghampiriku. Sisa pucat masih ada diwajahnya, mungkinkah ia takut
kehilanganku? Entahlah, tak bisa ia berkata. Kubantu ia duduk besamaku
diatap kapal sederhana itu. Kupercikan air dari tanganku yg basah
kewajahnya. Sarah tersenyum, manis sekali. Kepalanya bersandar dibahuku
yg basah. Angin lagi-lagi bertiup menambah romantis pagi itu. Sesekali
kusuapi sarah dg kue kesukaannya. Banjarmasin adalah kota seribu sungai.
Itu menggambarkan banyaknya sungai dikota ini, pagi ini kami menikmati
wisata menyusuri sungai-sungai pinggiran kota. Melihat pemandangan kota
dari tempat yang berbeda. Dengan kapal motor sederhana.
Tiap
kapal motor dikota ini memiliki bentuk yang sama namun berbeda warna
dan tulisannya, Sebagai ajang kreatifitas dan sesuai selera pemiliknya.
Pak Dayat, pemilik kapal motor yg kusewa tersenyum melihatku dan sarah.
“haha pengantin baru, ya nak ?” tanya beliau
“dia pacar saya, pak” aku tertawa renyah.
Sarah
pun tersenyum, tak malu lagi ia memegang tanganku. Kapal motor itu
terus melaju melewati anak-anak sungai kota ini. Kapal motor bercat
warna hijau cerah, yg baru kusadari bertuliskan sebuah kata sederhana
dibadan kapalnya, kata yang mulai ada dihatiku dan dihati seorang
wanita..
‘CINTA’
Bersambung Lagi..(maaf)
aku mesti pastikan d internet apa banjarmasin semenarik itu? lebih menarik dari kota2 yg pernah aku kunjungi. aku selalu berharap kalau citarum jadi pusat kota. ahahaha. hanya mimpi. nice thor, , aku tunggu bgt kisah lanjutannya, , semangat thor!
BalasHapuslanjutannya kelamaan... pembaca menunggu :D
BalasHapusMana kak lanjutannyaaaa ☺
BalasHapus: D
BalasHapus