Ini bulan mei. Konon meteor sedang ramai melewati bumi. Sejak bangun untuk tahajjud tadi, aku masih menunggui jendela. Belum bisa tidur. Shubuh sudah dekat. Kutunggu saja.
Aku sedang masa iddah di bulan pertama. Masa menunggu bagi wanita yg ditinggal mati suaminya selama 4 bulan sepuluh hari. Walau aku merasa suami ku sudah mati sejak lama.
Rasi bintang membentang. Telinggaku tersumbat headset mp3. Ayat demi ayat masuk kesana.
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (kami) kepada orang-orang yang Mengetahui. (QS Al An’am: 97)
Aku suka gugusan nya, langit sedang begitu cerah nya. Tiba-tiba, Satu yang benderang, jatuh diagonal. Seperti cahaya yang dilempar dan hilang. Itu komet, aku melihat nya. Lalu beberapa yang lain mengikuti. Ini hujan komet. Subhanallah.
Air kembali turun disudut mataku, aku terharu. Nun diufuk, mentari sudah menunggu untuk mulai bertugas. Dan, adzan shubuh pun berkumandang, shubuh yg menakjubkan. memulai hari baruku. mulai menggugus bintang-bintangku sendiri. dan kuharap, aku menemukan meteorku sendiri.
Hari ini kami sekeluarga akan wisata ke karimun jawa. Rian lah dalang nya. Katanya, karimun jawa adalah salah satu tempat terbaik di indonesia. Aku pernah ke bali, namun rian mengatakan bahwa karimun jawa jauh lebih hebat dari bali.
kami sekeluarga penasaran dg pulau yg legendanya ditemukan oleh Sunan Muria. salah seorang wali di pulau jawa yg masyhur.
Rian, kami sudah sangat akrab dengan nya. Aku pun sering bercanda dengan nya sekarang. Rian sudah tak sedingin dulu. Rian yang kukenal di SMA, namun dg sosok baru.
Akhirnya, kami sampai di semarang. Perjalanan masih jauh untuk menjapai karimun jawa yg katanya eksotis itu.
Jalur udara kami ditempuh dari Bandara Ahmad Yani, Semarang menuju Bandar Udara Dewa Daru di Pulau Kemajuan dengan pesawat sewa jenis CASSA 212. Agak mahal memang, beruntung pabrik sasirangan abah sudah sangat pesat, rian pun ikut 'urunan' dalam wisata kami kali ini.
...
Kami sampai..
Kulihat kakiku menginjak butir pasir berwarna putih, mengalir air sambil mendesir.
Subhanallah...
Aku dibuat takjub dg semua sudut pulau ini.
Kami dipersilahkan beristirahat disebuah rumah yg sudah disewa.
Kami shalat zhuhur berjamaah, kemudian dilanjutkan dg shalat ashar.
Setelah itu menikmati makan siang dg ruang makan yg menjorok ke laut. Indah.
Seperti biasa, abah;umi dan ida dan seorang lelaki asing bernama rian asik dg obrolan hangat mereka. Tak terasa akupun ikut terbawa obrolan seperti mereka. kami begitu akrab. lelaki asing itu terasa seperti bagian dari kami.
..
Kami berjalan-jalan dipantai. Aku bersama ida. Dibelakang ada Rian berbicara dg seseorang.
Sesekali angin mengusap jilbabku yg lebar. terik matahari sore sudah kuacuhkan.
Lalu rian menghampiri..
"ehm.. nona-nona.. aku punya bintang untuk kalian.." sapa nya.
aku kaget, rian membawa bintang laut. bagus sekali. ini kali pertama kulihat bintang laut secara langsung.
mulutku refleks tersenyum untuknya. dia tahu aku suka sekali semua hal tentang bintang.
"diambil doong.." pintanya.
lalu rian berjalan kearah laut. kulihat celana kain nya dilipat setengah betis. rian seperti merenung.
Kuhampiri. aku ingin banyak bercerita dg nya.
"Lagi mikir apa pak ustadz?" tanyaku, sengaja kusapa seperti itu untuk guru TPA sepertinya.
"hehe cuma ingat anak-anak di TPA" jawabnya
"serasa punya anak ya pak?" candaku.
"iya.. kadang sedih juga. kemarin kutanya, katanya mereka udah punya pacar semua. menyedihkan, bukan? padahal umur mereka belum ada yg sampai 9 tahun. Bukti pergeseran akhlaq yg menyedihkan, dulu saya waktu SD merasa itu sebuah hal yg tabu. Sekarang sudah menjadi seperti candu."
"di SD, suka dg wanita saja saya malu-malu" tambahya.
"sampai ketika SMA?" aku tak terkontrol bertanya.
wajah rian berubah, kurasa dia mengerti yg kumaksud.
dia menunduk, menghirup angin utara lalu menghembuskan nya.
"yan, aku tak tahu apa yang terjadi dg suratan takdir kita, semuanya serba aneh, kau datang dan hilang. lalu,
kau hadir ditengah kami, kau sudah banyak membantu kami. sampai hari ini, aku tak tahu jawabannya."
Rian tersenyum.
"tak semua pertanyaan perlu dijawab, sar."
"kita hanya dimudahkan atas taqdir yang sudah dituliskan" ucapnya.
Matahari perlahan pamit. Lalu dia mengajak kami melihat terbenamnya.
Sunset. Cantik.
"yan, aku tahu, kamu tahu, apa yang sudah terjadi. kadang aku berkhayal, yan... aku menatap rasi bintang ku bersamamu. melihat nya berkilau. dan kamu menjadi penunjuk arah bagiku."
angin laut utara semakin kencang.
rian menatap laut jawa. seperti ingin menjawab semua.
"kau masih sarah yg kukenal, sarah yang kukagumi. sarah SMA yg menolongku ke Rumah sakit, sarah yang membawakan ku sepotong roti bakar. sarah yg membuatku sadar apa itu belajar. sarah yg membuat ku safar. Tapi..."
Langit semakin gelap. Matahari yg tadi hampir terlelap.
"kau sarah yg membuatku kalah, membuat ku lelah, dan setelah kau menikah, semuanya berubah.
aku mencoba berdamai dg masa lalu, berusaha hidup baru. rasa padamu hilang seiring waktu."
aku galau, hatiku tak enak telah berucap. apa aku harus meninta maaf..?
"maaf, akuu..."
"sebenarnya aku ingin kita mulai lagi dari awal, sar."
"tapi sebuah hati menantiku disana, afwan.." lanjutnya.
Rian berlalu. Malam beradu. Bintang muncul satu persatu..
Namun komet itu sudah jatuh dan pergi, komet itu bernama Rian...
bersambung...
maaf kawan, akun yg kemarin bermasalah.
kusambung di akun ini saja. hampir selesai juga kisahnya.
maaf juga karna kisahnya kurang jelas, ini cuma kisah dadakan tanpa editan.
aku juga bingung, kenapa ceritanya kok jadi gini..hee
nikmati saja..
hanya ingin bercerita, kawan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar